Kepiting Bakau, Primadona Hutan Mangrove

Jakarta, AksiIklim.com – Membangun perekonomian masyarakat pesisir melalui budidaya kepiting bakau merupakan suatu pilihan yang sangat tepat, mengingat daerah ini sebagian besar berada pada posisi dataran rendah, terdiri dari lahan rawa dan pesisir pantai yang sangat luas, akan tetapi permasalahannya selama ini, di atas lahan yang luas itu hanya menjadi lahan-lahan tidur, alias tidak produktif.

Sesuai dengan namanya, maka kepiting bakau dapat ditemukan di Kawasan hutan bakau/mangrove yang memiliki kadar garam 10 sampai 35 ppt. Hewan ini menyukai perairan yang berdasar lumpur dan lapisan air yang tidak terlalu dalam (sekitar 10-80 cm) serta terlindung.

Ekosistem hutan bakau atau mangrove merupakan ekosistem hutan yang tumbuh di lingkungan pantai dan sebagai sumber produktivitas primer, sehingga berfungsi sebagai daerah untuk mencari makan (feeding ground), tempat berlindung/daerah asuhan (nursery ground) dan tempat pemijahan (spawning ground) berbagai biota perairan, termasuk kepiting bakau. Ekosistem mangrove juga berfungsi menghasilkan berbagai makanan yang dibutuhkan oleh kepiting bakau dalam bentuk material organik maupun jenis pakan alami lainnya.  

Tingginya permintaan pasar terhadap kepiting bakau khususnya pasar luar negeri, berakibat terhadap semakin tingginya tingkat eksploitasi biota tersebut di alam. Eksploitasi yang tidak bertangungjawab akan menyebabkan terancamnya kelestarian sumberdaya kepiting bakau. Guna mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN-KP/2015 telah menetapkan kepiting bakau (Scylla spp.) sebagai salah satu jenis ikan (krustasea) yang dilarang penangkapan maupun peredarannya dalam kondisi bertelur dan di bawah ukuran (layak tangkap).

Terdapat paling sedikit 4 (empat) spesies kepiting bakau yang ada di bawah genus Scylla yang terdiri atas S. serrata, S. olivacea, S. paramamosain dan S. tranqueberica. Pada beberapa perairan di Indonesia, jenis-jenis tersebut dapat ditemukan, di utara dan selatan Jawa dapat ditemukan S. serrata, S. olivacea dan S. paramamosain, bahkan di wilayah Papua dapat ditemukan ke-empat jenis kepiting bakau yang disebutkan diatas.

Tahapan dan Teknik Bertambak Kepiting Bakau

1. Memilih Metode Keramba
Metode keramba adalah metode budidaya kepiting bakau yang sesuai dengan kondisi lahan rawa terutama di daerah pantai berpasir dan sedikit berlumpur. Budidaya kepiting sistem keramba adalah menggunakan sistem hamparan kotak kerangkeng dalam ukuran luas tertentu, dengan penebaran 2 ekor bibit kepiting bakau/m2.

2. Cara Memperoleh Bibit
Keberhasilan suatu budidaya kepiting bakau di samping ditunjang teknik budidaya yang handal, tersedianya bibit juga sangat menentukan. Untuk usaha budidaya penggemukan kepiting ada cara untuk memperoleh bibit, yaitu: Para pemancing menjual kepada pedagang pengumpul, yang kemudian oleh pedagang pengumpul diseleksi sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan. Untuk ukuran bibit langsung dijual kepada petani pembudidaya. Biasanya ukuran bibit kepiting bervariasi antara 100 – 200 gr.

3. Pemberian Pakan
Kepiting bakau termasuk hewan Carnivora (pemakan daging). Bahan pakan untuk kepiting mudah didapat. Pakan kepiting bakau berupa ikan rucah, siput, wideng, dll.Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari, yaitu: pagi dan malam hari. Adapun dosis pemberian pakan antara 5 – 15% dari perkiraan berat badan kepiting bakau yang dipelihara. Tiap tahapan pertumbuhan dalam satu siklus kawin, memijah, dan larva, pakannya berbeda jenis, takaran, dan waktu. Misalnya plankton, pelet buatan, sampai cacahan daging.

4. Proses Penetasan Telur
Telur-telur kepiting betina akan melekat pada akar rambut kaki renang di sekitar katub perut. Saat proses ini berlangsung, maka kita harus melakukan penyortiran terhadap indukan kepiting. Untuk kepiting yang sudah matang dapat dipindahkan terlebih dahulu. Pindahkan betina tersebut ke dalam kolam atau wadah bervolume 300 liter air laut per satu kepitingnya.

Tidak semua telur yang menetas akan bertahan hidup, karena sebagian mungkin ada yang mati oleh sebab infeksi jamur, stres, serta kurang gizi dan beberapa faktor lainnya.Segera lakukan penyaringan agar telur-telur yang sehat tidak tertular, lebih-lebih jika kematian disebabkan oleh infeksi jamur.

Sedangkan untuk menanggulangi atau mencegah infeksi jamur berkembang, bisa ditambahkan Teflan 0,1 ppm atau 44% Tifuralin tiap tiga hari sekali pada bak penetasan. Dengan demikian, wabah jamur tidak akan menyerang dan mengakibatkan gagal panen. Telur-telur kepiting bakau akan menetas dalam waktu normal antara 7 – 14 hari dalam kolam penetasan bersuhu 26,5 – 31 derajat selcius.

5. Pemanenan dan Cara Pengemasannya
Masa pemeliharaan penggemukan kepiting bakau relatif singkat atau juga tergantung dari awal penebaran bibit. Untuk bibit ukuran 100 gram dalam masa pemeliharaan 2,5 – 4 bulan sudah bisa mencapai ukuran konsumsi (3–4 ekor/kg). Namun apabila awal sudah mempunyai berat lebih dari 200 gram, maka masa pemeliharaan bisa lebih singkat. Petani memanen kepiting bakau dilakukan secara selektif yaitu dengan cara memancing dan memisahkannya antara kepiting bakau yang gemuk dan matang telur.
Kepiting bakau yang sedang matang telur mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kepiting bakau sebelum diikat diletakkan ke dalam air bersih beberapa saat. Setelah itu kepiting bakau baru diikat kakinya dengan tali raffia,dan ditata dalam box.

By Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like