Air Sumber Daya Kehidupan Yang Harus Berkesinambungan

AksiIklim.com – Air adalah sumber daya vital terbarukan yang semakin mendesak kepentingannya dengan berbagai permintaan dan persaingan dari masyarakat, industri, dan pertanian. Ketika air menjadi tidak tersedia atau tidak dapat digunakan, kehidupan itu sendiri tidak dapat dipertahankan.

Ke-tidak tersediaan air lebih mudah dipahami daripada air yang berkesinambungan: Kita tahu kapan kita tidak memilikinya, karena ketika air tidak tersedia atau kualitasnya sangat buruk, kehidupan itu sendiri tidak akan bertahan.

Jadi bagaimana kita menentukan definisi kelestarian air? kita dapat menetapkan kelestarian air sebagai persediaan air bersih yang berkelanjutan untuk penggunaan manusia dan organisme hidup lainnya. Definisi ini  tidak menentukan secara tepat berapa banyak kuantitas air yang dibutuhkan, sebaliknya, ini mengacu pada kualitas air murni yang mencukupi di masa mendatang untuk semua biota, termasuk manusia. Karena esensi dari kesinambungan adalah, kita harus memahami bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan kita saat ini tanpa mengorbankan sumber daya yang akan dibutuhan anak-cucu kita di masa yang akan datang.

Air, bagaimanapun, adalah sumber daya yang terbarukan; mempertahankan penggunaannya seharusnya relatif mudah. Namun pada kenyataannya, kadang kita memiliki terlalu banyak air atau terlalu sedikit air pada waktu yang berbeda, selain itu air yang tersedia mungkin berkualitas terlalu buruk. Ketersediaan air sering dibatasi oleh proses alami yang terkait dengan siklus hidrologi dan pengaturan geologi, atau oleh batas yurisdiksi otoritas pemerintah dan hukum air. Pasokan air juga dibatasi oleh infrastruktur yang ada untuk menyalurkan air yang tersedia. Kemampuan untuk memastikan air bersih yang cukup untuk digunakan manusia sangat dipengaruhi oleh biaya pengiriman, harga serta permintaan air. Dengan demikian, banyak faktor dan kecenderungan yang mempengaruhi ketersediaan air dalam tiap ruang dan waktu.

Saat ini, lebih dari 99 persen air di bumi tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena terlalu asin (dalam bentuk air laut) atau membeku sebagai gletser, es, dan salju. Tetapi volume air tawar yang disimpan di gletser berkurang saat iklim yang lebih hangat mulai mencairkan gletser benua dan lapisan es Greenland dan Antartika. Banyak perubahan kualitas dan kuantitas air yang dipicu oleh aktivitas manusia – bukan alam.

Ada beberapa “pendorong” perubahan yang mengancam kelestarian dan kesinambungan air, yang diantaranya adalah;

  • Pertumbuhan populasi (dan pola migrasi ke kota-kota besar)

Ketika jutaan orang bermigrasi ke kota-kota besar, itu memusatkan permintaan dan menekan pasokan air lokal, lagi-lagi mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air per kapita. Manusia juga semakin pindah ke kota-kota pesisir di mana air laut terlalu asin untuk diminum dan desalinisasi terlalu mahal. Saat kita memompa akuifer air tawar dengan lebih keras untuk memasok air guna memenuhi kebutuhan penduduk dan pembangunan perkotaan, salinitas dapat terserap dari laut dan merusak pasokan air tawar dalam tanah.

  • Perubahan iklim (perubahan pola curah hujan dan kekeringan)

Karena perubahan iklim, area kering biasanya menjadi lebih kering dan area basah menjadi lebih basah di seluruh dunia. Di daerah kering, jumlah kelembaban tanah yang relatif kecil menguap lebih cepat di bawah kondisi panas, mengakibatkan kekeringan yang lebih lama dan mendalam. Sebaliknya, daerah yang lembab menjadi lebih basah dengan curah hujan yang lebih tinggi dan banjir: Laut yang lebih hangat menguapkan lebih banyak air, dan atmosfer yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak kelembaban, meningkatkan awan dan meningkatkan curah hujan global.  

  • Alih Fungsi Lahan (meningkatkan pertanian, irigasi, dan perluasan kota)

Makanan dan air adalah dua hal yang berkaitan erat. Untuk memberi makan populasi global yang berkembang, kita membuat pertanian yang semakin intensif di areal yang diperluas, yang dampaknya adalah pertanian tersebut membutuhkan lebih banyak pasokan zat kimia dan semakin mengurangi kualitas air.

  • Pilihan sumber energi

Pilihan sumber energi kita untuk memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah dan pembangunan sangat berdampak terhadap air. Misalnya, produksi tenaga listrik menggunakan lebih banyak air daripada penggunaan lainnya kecuali irigasi. Untungnya, air pendingin dari pembangkit listrik dapat dikembalikan ke saluran air dengan penguapan yang lebih sedikit daripada irigasi. Tetapi jika suhu air yang dikembalikan terlalu panas atau jika mengandung bahan kimia, dapat menyebabkan efek merusak pada ekosistem hilir dan perikanan.

By Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya