Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, BBKSDA Papua Lepas Liar 320 Satwa

Pewarta : Irwan Adhi Husada | Editor : Nurul Ikhsan

AKSIIKLIM.com, Papua – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan 320 satwa pada puncak peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day/ WWD) yang diperingati setiap tanggal 2 Februari, pada Rabu (2/2), di Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke.

Satwa yang dilepasliarkan adalah 300 ekor arwana irian (Scleropages jardinii) hasil penyisihan kuota tangkap tahun 2021, 9 ekor kura-kura papua leher panjang (Chelodina novaeguineae) hasil translokasi dari DKI Jakarta tahun 2021, serta 3 ekor soa payung (Chlamydosaurus kingii) dan 8 ekor kadal lidah biru (Tiliqua gigas) hasil translokasi dari Sumatera Selatan tahun 2021.

Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day/ WWD) yang diperingati setiap tanggal 2 Februari merupakan hari peringatan ditandatanganinya perjanjian internasional untuk melindungi lahan basah di seluruh dunia, atau lebih dikenal dengan Konvensi Ramsar, di Kota Ramsar, Iran pada tahun 1971. Dimana konvensi Ramsar bertujuan untuk mendorong upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan di seluruh dunia.

Terhadap satwa yang dilepasliarkan, Dokter hewan BBKSDA Papua, drh. Widya Bharanita Darmanto, menyatakan satwa-satwa translokasi dalam kondisi siap dilepasliarkan kembali ke alam. Satwa-satwa tersebut telah menjalani proses habituasi di kandang transit Buper Waena, dengan pemantauan secara berkala.

Terkait arwana irian, alam menyediakannya sebagai bagian penting kekayaan keanekaragaman hayati di perairan selatan Papua, khususnya Merauke. Wilayah tersebut memiliki lahan basah yang terhampar luas, dan merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Wasur.

Di garis waktu, arwana irian telah mengalami perjalanan panjang, mulai dari perannya memenuhi kepentingan tradisional di masa lalu hingga komersial di era modern.

Dulu, masyarakat yang bermukim di sekitar habitat ikan arwana irian hanya memanfaatkannya untuk konsumsi dan upacara adat tertentu. Sebagaimana kita tahu, pemanfaatan sumber daya secara tradisional biasanya bersifat alamiah dan tidak mengganggu populasi di alam. Namun, waktu berlalu dan era berganti. Arwana irian telah menjadi komoditas yang cukup menjanjikan. Sampai titik ini, kiranya perlu kebijakan pemanfaatan arwana irian oleh masyarakat agar tetap terjamin kelestariannya di alam.

“Menyisihkan kuota tangkap setiap tahun untuk dilepasliarkan, menurut saya ini bagian dari kebijakan pemanfaatan arwana irian untuk menjamin kelestariannya di alam”, demikian ungkap Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring.

Lebih dari itu, Edward menjelaskan bahwa masyarakat adat sebenarnya telah memiliki banyak nilai luhur atau kearifan dalam pemanfaatan sumber daya alam. Sejauh ini nilai-nilai tersebut sangat mendukung kegiatan konservasi.

“Kearifan lokal terkait sasi dan totem, misalnya, merupakan contoh nilai-nilai konservasi yang berkembang di kalangan masyarakat adat dan telah diterapkan sejak zaman nenek moyang. Saya selalu hormat terhadap nilai-nilai itu, yang merupakan khazanah negeri kita dan terbukti sanggup menjaga alam sampai sekarang,” kata Edward.

Sejauh ini, nilai sasi dikenal cukup luas oleh kelompok-kelompok masyarakat adat di Papua. Sasi adalah larangan memanfaatkan sumber daya di suatu wilayah adat tertentu dalam jangka waktu tertentu. Menurut Edwrad, sasi termasuk pola yang efektif dalam mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.

Di sisi lain, totem memiliki daya tarik khusus, baik sebagai nilai konservasi maupun nilai adat. Peluangnya cukup tinggi bila dikelola menjadi bagian pendukung pariwisata minat khusus di area lahan basah Merauke yang indah tiada tara. Kata totem sendiri sangat menarik perhatian, seperti dongeng purba dari antah-berantah yang tersesat di zaman modern.

Menutup pernyataannya, Edward menyampaikan seruan agar setiap indvidu berperan aktif menjaga sumber daya alam Papua sebelum menjadi kenangan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Merauke, Rektor Univ. Musamus, Komandan KODIM 1707 Merauke, Komandan LANTAMAL XI Merauke, Komandan LANUD Merauke, KAPOLRES Merauke, Kepala BAPPEDA Merauke, Kepala DLH Merauke, Kepala Dinas Pariwisata Merauke, Plt Kapus P3E Papua, dan Kepala UPT KLHK di Papua, Kepala Stasiun Karantina Pertanian kls I Merauke, dan dari Stasiun Karantina Ikan dan Pengendali Mutu Perikanan Merauke.

By Irwan Adhi Husada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya