PKM STISIP Ajak Warga Desa Datarcae Mengolah Sampah Jadi Eco Enzyme

Pewarta : Anita Maudi | Editor : Nurul Ikhsan

AKSIIKLIM.com, Lebak – Gelombang ketiga pandemi Covid-19 saat ini mengkhawatirkan masyarakat. Menjaga situasi agar tetap kondusif merupakan tugas bersama sebagai elemen masyarakat dengan menyebarkan isu positif untuk melakukan pertahanan dan pencegahan penyebaran virus Covid-19. Perlu dikuatkannya gerakan hidup sehat sesuai instruksi pemerintah agar memulai kebiasaan baru dengan mematuhi protokol kesehatan guna memutus rantai penyebaran Covid-19.

Bagaimanapun, hidup sehat adalah impian bagi setiap orang, dan harus dimulai dari diri sendiri juga lingkungan. Wujud pengabdian kepada masyarakat dalam kegiatan Praktek Kerja Mahasiswa (PKM) Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintah dan Politik (STISIP) Setia Budhi Rangkasbitung mengajak masyarakat di Desa Datarcae, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Rabu (16/2/2022) menciptakan lingkungan hidup yang sehat, salah satunya dengan meluncurkan program pembuatan Eco Enzyme.

Peserta ibu-ibu antusias mengikuti pelatihan mengolah sampah menjadi Eco Enzyme. FOTO: AKSIIKLIM.com/Anita Maudi.

Eco Enzyme ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvon. Ia pendiri Asosiasi Pertanian Organik di Thailand. Gagasan proyek ini adalah untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya kita buang ke dalam tong sampah sebagai pembersih organik.

Eco Enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik, seperti ampas buah dan sayuran, gula alami (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Warnanya coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Eco Enzyme bisa menjadi cairan multiguna dan aplikasinya meliputi rumah tangga, pertanian dan juga peternakan.

Pada dasarnya, Eco Enzyme mempercepat reaksi bio-kimia di alam untuk menghasilkan enzim yang berguna menggunakan sampah buah atau sayuran. Enzim dari sampah ini salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat. Cairan ini bisa menjadi pembersih rumah, maupun sebagai pupuk alami dan pestisidia yang efektif.

Ketua Kelompok 2 PKM, Doni Irawan Damanik, memyampaiakan kegiatan pembuatan cairan Eco Enzyme bertujuan mengedukasi masyarakat bahwa limbah rumah tangga tidak selalu harus dibuang, melainkan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, serta dapat membantu lingkungan agar tetap terjaga dan menciptakan vibrasi hidup yang sehat.

“Dalam pelatihan ini kami mendatangkan narasumber yang telah ahli dalam pembuatan cairan eco enzyme, yaitu Ibu Dra. Hj. Djamilah Sudjana, M.Si sebagai Ketua Komunitas Eco Enzym di Kabupaten Lebak,” ujar Doni, sapaan akrabnya.

Menurut Djamilah Sudjana, untuk preventif di situasi Covid ini penggunaan Eco Enzyme sangat bermanfaat untuk pembersih udara dan ketahanan keluarga.

“Eco Enzyme ini dapat dijadikan sebagai pembersih udara, media untuk penyembuhan Covid bagi pasien yang melakukan Isolasi Mandiri di rumah, dan untuk ketahanan keluarga kita juga,” terangnya.

“Kita tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan eco enzyme ini, karena Palang Merah Indonesia pun sudah merekomendasikan bahwa cairan eco enzyme dapat digunakan untuk penanggulangan bencana dan kegiatan kesehatan lainnya,” sambungnya.

Kegiatan pembuatan cairan eco enzyme menarik antusiasme masyarakat, terlihat dari partisipan yang hadir antara lain ada Ibu Kades Datar Cae, pengurus dan anggota PKK, Mahasiswa, dan masyarakat.

Salah satu peserta pelatihan, Didin Rapiudin mengatakan, “Eco Enzym ini pembuatannya sangat simpel dan juga multiguna, sangat bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian dan peternakan,” katanya.

By Anita Maudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya