Penambangan Emas di Palopo Ancam Kelestarian Hulu Sungai Lattupa

Sulawesi, AksiIklim.com – Aktivitas penambangan emas liar di Siguntu, Kelurahan Latuppa, Kecamatan Mungkajang, Kota Palopo, Sulawesi Selatan sedang disorot. Aktivitas penggalian material ini dinilai dapat menjadi ancaman bagi kelestarian hulu Sungai Latuppa, bahkan dapat menjadi pemicu bencana banjir jika hal tersebut terus berlanjut.

Tidak hanya itu, gugusan pegunungan yang ada di barat Kota Palopo merupakan daerah tangkapan air (DTA) dan Hulu daerah aliran sungai (DAS) Latuppa yang menjadi sumber air bersih (PDAM) untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat yang ada di Kota Palopo.

Menurut Basri Andang, Direktur Perkumpulan Wallacea Palopo, aktivitas penambangan ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi.“Penambangan pernah dilakukan pada tahun 2006 dan mendapat penolakan warga sekitar, mahasiswa dan masyarakat di Kota Palopo sehingga aktivitas tersebut terhenti,” katanya.

Di awal tahun 2020, tepatnya di April 2020 aktivitas pertambangan mulai diketahui berlanjut lagi. Bahkan telah dilakukan penindakan oleh Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Latimojong. Desakan penutupan aktivitas penambangan di Siguntu dan penindakan hukum terhadap pelakunya disampaikan berbagai elemen masyarakat Kota Palopo. Hanya saja, meski telah ada surat peringatan dari KPH, aktivitas tetap berlanjut.

Walikota Palopo, HM Judas Amir, juga telah mengundang unsur Forkominda Kota Palopo untuk membahas permasalahan pertambangan emas liar di Pegunungan Siguntu, Kelurahan Latuppa, Kecamatan Mungkajang, Kota Palopo, pada hari Senin tanggal 24/8/2020 kemarin, di Kantor Walikota.

Selain unsur Forkominda, Walikota Palopo juga mengundang berbagai unsur terkait lainnya untuk membicarakan solusi persoalan tambang emas liar yang belakangan ini menuai protes dari berbagai kalangan di kota “Idaman” ini.

“Perlu pendapat para ahli, apakah kandungan emas Kota Palopo di Siguntu dan Mangkaluku bisa dikelola tanpa merusak lingkungan hidup, atau tidak bisa dikelola?,” kata Judas Amir, dalam rapat bersama Unsur Forkominda Kota Palopo, di Lantai III Kantor Walikota Palopo.

Dikatakan Judas Amir, jika pendapat ahli menyatakan kandungan emas yang ada di pegunungan Siguntu dan Mangkaluku tidak bisa dikelola karena akan merusak lingkungan dan berpotensi mendatangkan bencana alam bagi warga Kota Palopo, maka tidak boleh dikelola dalam bentuk apapun. Kalau kajian ahli menyatakan berbahaya kalau diolah, maka harus dihentikan,” tegas Judas Amir.

Sebaliknya, jika kajian ahli tambang menyatakan bisa dikelola secara ramah lingkungan, seperti tambang emas di beberapa daerah di Indonesia, maka sebaiknya dikelola sesuai kajian ahli tambang untuk kesejahteraan masyarakat Kota Palopo. “Makanya, kita butuh pendapat ahli tambang,” kata Judas Amir.

Dikatakan Judas Amir, beberapa perusahaan tambang sejak tahun 1980 telah melakukan eksplorasi di Siguntu dan Mangkaluku, seperti PT Aneka Tambang tahun 1980 hingga tahun 1991, PT Aura Celebes, termasuk PT Seven Energy Group. Sesuai hasil eksplorasi tersebut, kandungan emas di pegunungan Kota Palopo tersebut bisa ditambang sekitar 25 tahun.

By Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like