Pencemaran Limbah Minyak di Pulau Pari Ancam Ekosistem Pesisir

Jakarta, AksiIklim.com – Pembersihan tumpahan minyak yang mencemari perairan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu sejak awal Agustus 2020 akhirnya selesai.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Djoko Rianto Budi Hartono mengatakan tumpahan minyak selesai dibersihkan pada hari Kamis (27/8/2020). “Proses pembersihan tumpahan minyak sudah selesai,” kata Djoko saat dikonfirmasi.

Sebanyak 1.715 karung atau 17.894 kilogram (17,8 ton) limbah gumpalan minyak dikumpulkan dari perairan Pulau Tidung dan Pulau Pari mulai dari 11-28 Agustus 2020. “Dari total 17.894 kg limbah yang kita kumpulkan, sebanyak 2.614 kg atau 187 karung dari Pulau Tidung dan 15.280 kg atau 1.528 karung dari Pulau Pari. Jadi yang terdampak siginifikan ada di Pulau Pari,” ujar Djoko

Total keseluruhan limbah minyak yang berhasil diangkut dari perairan di Kepulauan Seribu saat ini masih di data. Selanjutnya, Sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu melakukan proses identifikasi tumpahan minyak bersama dengan unsur terkait lainnya.

“Kalau total (tumpahan minyak yang berhasil dibersihkan) nanti saya share. Jadi ini lagi proses identifikasi dengan teman-teman KLHK, dengan PHE (Pertamina Hulu Energi) OSES lagi di lapangan sekarang,” kata Djoko.

Tumpahan minyak yang sudah dikumpukan nantinya akan dibawa ke pabrik di daerah Karawang, Jawa Barat, untuk dimusnahkan. Limbah ini perlu dimusnahkan agar tidak merusak lingkungan. “Nanti dibawa PHE OSES ke Karawang untuk dihancurkan, biar tidak merusak lingkungan,” jelas Djoko.

Media dan Relations Manager PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Yudy Nugraha juga mengatakan penanganan tumpahan minyak di Kepulauan Seribu telah selesai ditangani dan akan segera diangkut. “Sementara sudah selesai, semoga tidak ada lagi. Limbah yang sudah dikumpuin segera diangkut ke tempat pengelola limbah,” katanya.

Terjadinya pencemaran air laut oleh limbah minyak seperti ini selain merugikan komunitas penduduk juga mengancam ekosistem tumbuhan dan biota laut yang menghuni Kawasan pesisir. Tumbuhan mangrove yang hanya dapat hidup dikawasan pantai adalah salah satu ekosistem di pesisir yang terkena dampak negative dari pencemaran limbah minyak tersebut.

Pencemaran air laut oleh limbah minyak atau hidrokarbon adalah salah satu polutan yang telah mendapatkan perhatian berbagai kalangan dunia pengetahuan. Pencemaran tersebut adalah berupa tumpahan minyak atau bocoran minyak yang akhirnya akan membentuk lapisan minyak dipermukaan perairan maupun pada lantai hutan (substrat) mangrove serta gumpalan belangkin (teer).

Karena tumbuhan mangrove mempunyai perakaran yang khas (misalnya jenis Rhizophora sp., Avicennia sp., Sonneratia sp.) yang berperan untuk menangkap segala material yang berasal dari laut maupun daratan, maka tumpahan minyak (polutan hydrocarbon) tersebut akhirnya juga akan terperangkap di areal hutan mangrove.

Apabila bahan pencemar yang terperangkap pada perakaran tumbuhan mangrove cukup banyak, maka polutan hidrokarbon tersebut akan menyebabkan kematian dan bahkan musnahnya sumberdaya mangrove. Limbah minyak juga akan menyebabkan kematian terhadap biota yang hidup pada perakaran mangrove maupun pada substratnya.

Riset yang dilakukan oleh Balai Teknologi Lingkungan BPPT tahun 2012,menyimpulkan pada mangrove yang telah telah berumur lebih dari 10 tahun, dilaporkan terjadi kematian setelah tercemar oleh tumpahan minyak bumi.

Hal itu diduga karena terjadinya dua proses. Proses pertama, yaitu secara fisik terjadi penutupan pada permukaan jaringan vital tanaman oleh minyak, seperti daun dan akar yang mengakibatkan terhambatnya fotosintesis, pertukaran gas dan peningkatan suhu melalui peningkatan absorpsi radiasi.

Proses kedua, yaitu kematian mangrove karena keracunan minyak bumi. Akan tetapi pada proses kedua jarang dijumpai pada mangrove, tetapi kemungkinan minyak menghambat proses desalinasi atau osmoregulasi.

Dalam riset tersebut disebutkan juga bahwa mangrove muda lebih efektif dalam mendegradasi hidrokarbon minyak bumi. Jenis mangrove muda Rhizophora mucronata, Bruguiera sp, Sonneratia sp dan Avicenia sp menunjukkan toleransi terhadap cemaran minyak.

Penurunan Total Petrolium Hidrokarbon terjadi pada semua perlakuan konsentrasi minyak. Penurunan tertinggi tampak pada Rhizophora mucronata dalam semua perlakuan dan waktu pengamatan.

By Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like