Wahana Mangrove Indonesia Petakan Rehabilitasi Mangrove di Banten Selatan

Pewarta : Jamaludin Al Afghani | Editor : Heri Taufik

AKSIIKLIM.com, Lebak – Yayasan Wahana Mangrove Indonesia (WAHMI) sejak tahun 2019 hingga 2021 terus memetakan kerusakan mangrove di wilayah pesisir Banten Selatan. Beberapa program penanaman mangrove pun telah dilakukan untuk mengurangi dampak abrasi yang masif terjadi sepanjang tahun.

Direktur Eksekutif Nasional WAHMI, Nurul Ikhsan, menjelaskan secara umum kerusakan mangrove di wilayah Banten Selatan cukup besar. Bahkan di beberapa wilayah sebaran mangrove sudah banyak yang hilang.

”Hilangnya mangrove tentunya akan berdampak terhadap daya dukung lingkungan, bahkan dapat mengancam wilayah hunian penduduk. Selain hilang karena faktor alam oleh abrasi yang tinggi, penyebab lain terjadinya mangrove hilang karena telah terjadi alih fungsi lahan, misal wilayah mangrove di konversi menjadi area tambak yang dimiliki pihak swasta. Ini sangat bahaya jika terus dibiarkan karena wilayah Banten Selatan masuk dalam bentang ring of fire yang sangat rentan dengan potensi bencana alam,” terang Kang Ikhsan.

Staf Yayasan Wahana Mangrove Indonesia saat melakukan pemetaan wilayah pesisir terdampak abrasi di Pantai Sawah Kabayan, Desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten. FOTO: Aksiiklim/N. Ikhsan

Hal senada disampaikan pengurus WAHMI Eksekutif Daerah Kabupaten Lebak, Adam Gumelar. Kepada Bantenbisnis (Aksiiklim.com grup) ia menjelaskan, Pemprov Banten dan Pemkab Lebak sudah seharusnya sejak dulu memetakan kerusakan mangrove dan melaksanakan rehabilitasi mangrove di Banten Selatan secara berkelanjutan.

Ditambah lagi, ungkap Adam, pemerintah desa bahkan masyarakat sekali pun menurutnya belum memahami fungsi keberadaan mangrove sebagai benteng alami, dan keberadaan hutan mangrove yang terjaga dapat memberi dampak besar bagi kehidupan masyarakat, dan bagi keanekaragaman hayati di wilayah pesisir.

“WAHMI terus bergerak mensosialisasikan dan memprogramkan penanaman mangrove khususnya di Banten Selatan. Saat ini kami tengah fokus memprogramkan rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir di Kabupaten Lebak dan Pandeglang,” ungkap Adam yang juga aktivis di Synergreen Indonesia.

Dikatakan Kang Ikhsan, WAHMI secara tegas meminta untuk menghentikan alih fungsi area mangrove sebagai wilayah komersial yang hanya menguntungkan pihak investor saja, tanpa menghitung dampak kehancuran ekologi yang timbulkan dari konversi lahan mangrove yang dipaksakan tanpa ada kajian mendalam dan melabrak tata ruang laut dan wilayah pesisir.

”Kami meminta pemerintah tegas untuk membuat peta mangrove secara komprehensif khususnya di wilayah pesisir Provinsi Banten. Banten sudah darurat mangrove. Jika terus dibiarkan maka masa depan wilayah pesisir di Banten akan terancam bencana. Ingat, keberadaan mangrove yang yang kuat bagian dari pertahanan alami untuk mitigasi bencana, hutan mangrove sebagai penyeimbang ekosistem laut, dan rumah yang nyaman bagi biota laut, hewan dan tumbuhan,” tandas Kang Ikhsan yang juga founder Synergreen Indonesia.

By Jamaludin Al Afghani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya