Tanin Mahoni, Potensial Gantikan Perekat Sintetis

Pewarta : Tim Redaksi | Editor : Irwan Adhi Husada

AKASIIKLIM.com – Produk kopolimerisasi tanin ekstrak dari kulit kayu mahoni dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan kayu laminasi berupa balok (glulam) dan papan lamina (laminated board). Kualitas perekatan dan sifat mekanik kedua jenis produk tersebut sebanding dengan produk sejenis berperekat impor.

Kandungan tanin pada ekstrak kulit mahoni (Swietenia macrophylla) potensial dikembangkan untuk menggantikan bahan perekat sintetis. Efisiensi menjadi keunggulannya. Hal ini terungkap dari riset Adi Santoso, dkk yang dirilis dalam Jurnal Penelitian Hasil Hutan Volume 38 Nomor 3 Tahun 2020

BACA JUGA : Mikroba Hutan, Si Kecil Bermanfaat Besar

Aplikasi tanin mahoni yang diujicobakan dalam skala industri hanya membutuhkan bobot labur 170 gram/meter permukaan dengan masa kempa 3 jam dalam proses produksinya. Ini lebih rendah dibanding kebutuhan perekat sintetis seperti Phenol Resorsinol Formaldehida (PRF) maupun poliuretan (PU) yang digunakan di industri tempat uji coba dilakukan. Oleh karenanya, ditinjau dari aspek efisiensi, penggunaan perekat tanin ini lebih hemat.

Adi Santoso dkk, melakukan pengujian pada tiga jenis kayu, yaitu tusam (Pinus merkusii), jabon (Anthocephalus cadamba), dan sengon (Falcataria moluccana). Kesimpulannya, produk kopolimerisasi tanin ekstrak dari kulit kayu mahoni dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan kayu laminasi berupa balok (glulam) dan papan lamina (laminated board).  

BACA JUGA : Dr Wini Trilaksani Ungkap Manfaat dan Alasan Fantastisnya Harga Caviar

“Kualitas perekatan dan sifat mekanik kedua jenis produk tersebut sebanding dengan produk sejenis berperekat impor,”ungkap Adi Santoso dkk, para peneliti pada Puslitbang Hasil Hutan (P3HH), dalam artikelnya. 

Dua formula perekat tanin yang dihasilkan yaitu T:R:F = (1:0,025:0,1)%, dan T:K:F: = (1: 0,03: 0,1) %. Keduanya secara teknis memungkinkan untuk diaplikasikan pada pembuatan kayu laminasi pada skala pabrik. 

BACA JUGA : Lulusan Doktor IPB University Ini Jelaskan Keunikan Kelelawar

Kelebihan lain dari perekat tanin mahoni adalah tergolong tipe eksterior atau tahan cuaca.  Dalam kondisi uji basah (tipe eksterior), tidak ada contoh uji yang terdelaminasi (0%). Sementara contoh uji yang menggunakan perekat dari industri pengolahan kayu seluruhnya mengalami delaminasi (100%). 

Pemanfaatan kulit kayu mahoni sebagai bahan perekat alami ini selain dapat memberikan nilai tambah pada kayu tersebut, juga mengurangi pencemaran lingkungan dengan berkurangnya limbah dan emisi gas formaldehida dari produk perekatannya. Teknologi pembuatannya relatif sederhana, sehingga dapat dipertimbangkan untuk mendirikan industri tersebut dalam skala Usaha Kecil Menengah (UKM). Masyarakat di sekitar lokasi hutan tanaman dapat dilibatkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. 

Diperkirakan kebutuhan perekat berbasis bahan alami akan semakin meningkat di masa depan. Hal ini karena bahan baku perekat sintetis dari produk proses pengolahan minyak bumi ketersediaannya semakin berkurang, sehingga membuat harga perekat sintetis semakin mahal. Kondisi ini membuka peluang pengembangan teknologi perekat kayu berbahan alami, yang ke depan berpotensi mengurangi kebergantungan pada kebutuhan perekat sintetis impor.

Selain tanin mahoni, P3HH juga meneliti perekat alami dari tanin limbah kulit mangium, limbah kayu merbabu, dan perekat lignin dari limbah pulp.*(RAH)

By Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainnya